Serdadu Sam Kembali Dengan Album Baru Bertajuk “Kronik”: Sebuah Catatan Emosional, Historis, dan Eksperimental!

Namanya ini mungkin masih kurang familiar di kuping penikmat musik.  Namun proyek musik solo yang bernama Serdadu dan terbentuk di Jakarta pada 2021 ini, telah merilis single debut “Kami Adalah Badai” dan EP Rencana Tiga Belati yang hadir setahun kemudian. Salah satu lagunya, “Agrippina,” berhasil masuk nominasi AMI Awards 2022 untuk kategori Karya Produksi Progressive Terbaik. Musiknya gabungan antara elemen progresif, melankolis, dan eksploratif, terinspirasi dari Genesis, Morrissey, hingga Brian Wilson.

Kini diawal tahun 2026, Serdadu Sam merilis proyek musikal terbarunya bertajuk Kronik. Sebuah album penuh berisi rangkaian lagu yang memotret kegelisahan batin, refleksi sosial, dan pencarian eksistensi dalam bentuk audio-naratif yang kaya tekstur.

Dalam Kronik, Serdadu Sam menolak pola album konvensional. Ia memilih merangkai cerita melalui 13 trek yang bukan hanya sekadar lagu, tapi ibarat bab-bab dari sebuah buku hidup—tentang ambisi dan ketamakan, kegagalan, perpisahan, pertobatan, kehilangan, hingga kobaran semangat dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

“Kronik adalah dokumentasi batin. Saya tidak sedang membuat album komersial—saya sedang menulis catatan untuk dipahami, oleh siapa pun yang pernah merasa sendiri, lelah, tidak berdaya dihantam kerasnya kehidupan, dan ditelan kekecewaan di tengah keramaian, namun tetap harus berjuang menjalani hidup yang terus berjalan,” ujar Kenny, sosok di balik Serdadu Sam.

Sebenarnya materi Kronik telah dirancang sejak 2021. Penulisannya dilandasi oleh pengalaman pribadi, hasil observasi, dan cerita orang-orang terdekat. Semua lagu (kecuali Setengah Tiang) diciptakan dan ditulis oleh Kenny dalam Bahasa Indonesia, dengan pendekatan lirik yang naratif namun tetap puitis.

 “Menulis dalam Bahasa Indonesia punya tantangan tersendiri. Saya berusaha menghindari klise, tapi juga tidak ingin terlalu bersayap,” tambah Kenny.

Beberapa lagu dalam album ini berdurasi tidak biasa—seperti Kalibut, sebuah nomor  progresif rock yang bercerita tentang konflik Gaza dengan durasi lebih dari 12 menit. “Saya tak ingin dibatasi aturan industri soal durasi. Cerita sebuah lagu selesai saat ia selesai—bukan saat timer berhenti,” jelasnya.

Salah satu titik penting dalam Kronik adalah reinterpretasi Setengah Tiang, lagu karya maestro Harry Roesli. Dengan restu keluarga almarhum, lagu ini dihidupkan kembali melalui sentuhan brass dan emosi kontemporer.

“Kami tidak ingin meng-cover. Kami ingin berdialog dengan masa lalu,” ujar Kenny.

Album ini juga menghadirkan single unggulan Dan Akhirnya Selamanya, kolaborasi dengan Bemby Gusti (drummer Band Sore Ze Band). Lagu ini menjadi pesan personal Kenny untuk kedua putrinya—tentang menerima hidup, menghadapi kekecewaan, dan menemukan makna dari kebahagiaan yang disyukuri.

Dalam album Kronik ini, Serdadu Sam merambah berbagai genre dan mengeksplorasi berbagai instrumen musik untuk menerjemahkan semua ide dan visi musikalnya secara maksimal. 

Dari sisi proses kreatifnya, Serdadu Sam melibatkan banyak kolaborator ternama seperti Rama Moektio, Dave Lumenta, Bemby Gusti, Mondo Gascaro, Denny Chasmala, Fajar Adi Nugroho, Indro Hardjodikoro, Andre Dinuth, Adra Karim, Yai Item, Noldy Benyamin, Achi Hardjakusumah, Diki Satya, Vari Rivano (Band Rimba), Aufa Kantadiredja, Ibnu Aliph, Brury Effendi, Wahyu Hidayat, Matahari Macallo, hingga Moscow Metropolitan Session Orchestra. Produksi sebagian besar dilakukan di Studio 168, diproduseri oleh Serdadu Sam bersama Fay Ismail, dengan mixing oleh Fay dan mastering oleh Dimas Pradipta.

Tentunya, kolaborasi di studio rekaman akan lengkap bila disandingkan dengan rencana showcase promo album ini. Rencana untuk memperkenalkan Kronik secara langsung kepada para pendengar, yang akan disusul dengan perilisan dalam format fisik dan digital, sudah ada di dalam wishlist Serdadu Sam.

“Saya berharap album ini dapat memberikan pengalaman musikal yang berbeda kepada para pendengar yang bersedia memberikan waktu untuk mendengarkan dan mengenal karya ini lebih jauh,” pungkas Kenny.  (teks; oni, foto” dok.ist)

Related Article

Latepost

Event Highlights